Pages

Thursday, September 25, 2014

Embun. Kabut dan Kita

Pagi ini embun dan kabut mengajakku meninggalkanmu
Melayangkan aku pada memori tentang janji pada suatu hari yang silam
Walau jauh di nun semesta sana, ada hati yang tertikam
Tepat ketika embun dan kabut mengajakku menyongsongmu!

Permata Anawai, 25 September 2014
*jalan pagi...

Wednesday, August 27, 2014

"Kalimatmu Itu Sejatinya Adalah Kalimatku" (Akhir dari Sebuah Hangout(Silaturahim) Indah)



Tiga hari belakangan suasana kantor lebih santai dari biasanya. Beberapa teman dan para pejabat sedang ada kegiatan di luar kota. Tinggallah staf-staf yang lebih banyak bercengkrama di salah satu ruangan dari tiga ruangan yang ada. Makan-makan, becanda-becindi yang kata teman-teman adalah bentuk pelarian kekecewaan gak diajak kegiatan, haha..Ada-ada saja! Jadi rasanya sah-sah saja kita-kita mengambil jam istirahat lebih cepat dan mengakhirinya dengan lebih lambat. *ckckck...ironi pegawai kantoran

So, hari ini aku memutuskan jalan bareng teman lama, boleh dibilang adik, karena dia usianya beberapa tahun di bawah usiaku :) Terakhir jalan bareng dia, enam bulan lalu. Wow! lama sekali! padahal kita sekantor, tapi tak seruangan. Aku lumayan sibuk, kadang dia juga begitu. Waktu kita seruangan dulu, kita memang paling sering jalan bareng, sekadar makan siang atau shopping bareng di swalayan tetangga kantor. 

Adikku satu ini paling asik diajak jalan, terutama karena sifatnya yang sabar dan pengertian. Dia setuju-setuju saja aku ajak ke suatu tempat, sekadar menemani. Dia sabar-sabar saja dengan pilihan menu makanan yang kupilih, sabar bantuin menenteng belanjaanku, sabar dengan banyaknya urusanku yang menyita waktunya saat jalan bersama itu dan dia selalu pengertian dengan apapun tema/topik pembicaraan yang kuangkat. Entah itu soal keluargaku, soal teman kantor yang nyebelin, soal pilihan gadget atau cowok atau cinta atau apa pun itu. Jarang sekali bisa miliki teman seperti ini. How lucky I am!

Karena lama tak jalan bareng itulah, kita puasin keliling-keliling, muter-muter, makan-makan, pilih-pilih belanjaan rumah tangga diselingi pekikan dan kadang cekikikan kita berdua karena melihat barang keren (hehe)...dan diakhiri dengan nyanyi-nyanyi yang ditandai dengan pilihan lagu-lagu yang buat kita makin bersemangat. Dan hangout selama hampir 4 jam itu diakhiri dengan kalimatnya "Aku senang sekali hari ini!" yang kubalas dengan senyuman. Dalam hati kuberkata,""Kalimatmu itu sejatinya adalah kalimatku, akulah yang senang hari ini!"

Meski kelihatan sepele dan sederhana, berbagi waktu dan tawa bersama orang lain benar-benar bisa menyulap kekecewaan yang mungkin datang di awal hari menjadi rasa senang dan bahagia dalam hati (seperti yang aku alami tadi pagi ketika disergap kenyataan yang teramat sangat mengecewakan). Melihat teman tertawa bahagia, membiarkannya mengekspresikan diri membuat hatiku merasakan hal yang sama. Silaturahim memang gak ada ruginya. Mudah-mudahan kesempatan berikutnya bisa ada lagi. 





Monday, July 21, 2014

Surat Untuk Para Ibu di Palestina



Wahai Ibu yang dimuliakan dengan melahirkan anak-anak yang syahid
Betapa kuatnya jiwamu menahan perasaan
Ketika bangun tak selalu mendapat kenyataan anak kesayangan berlari bermain
Tetapi berdebar mencemaskan keselamatannya di tiap menit waktu
Ketika hendak menidurkan mereka pun kau ceritakan cerita syahid dari pendahulu
Cerita pejuang yang mempertahankan tanah kelahiran
Bukan dongeng putri dan pangeran kerajaan yang imajinatif

Wahai Ibu yang dimuliakan dengan melahirkan anak-anak yang syahid
Betapa kuatnya jiwamu menahan perasaan
Ketika menenangkan resah dan degup tercinta dari serangan-serangan mematikan yang hadir dari waktu ke waktu
Ketika mengobati anak tercinta yang terluka dengan kain sekedarnya
Memberi senyum terbaik dan keteguhan hati untuk setiap lara
Tak terpikir memberikan video game apa jenis terbaru

Wahai Ibu yang dimuliakan dengan melahirkan anak-anak yang syahid
Betapa kuatnya jiwamu menahan perasaan
Ketika mengajak pewaris generasimu sahur dan berbuka dengan sajian sekedarnya di tengah desing dan gemuruh roket menghantam rumah-rumah
Mendekap sayang dan mengusir ketakutan di hati si kecil
Bukan sibuk memikirkan baju dan perabotan baru untuk berlebaran

Dari senyum dan matamulah Ibu, bagi mereka dunia tetap aman
Dari pancaran jiwamulah, bagi mereka surga itu terasa dekat
Sungguh memang begitu dekatlah surga Allah bagi kalian.

Kendari @ 17 Juli 2014

Sunday, July 6, 2014

Please Be My Reminder and I’ll Be Your Reminder, Forever.



“Hidup terasa hambar kalau tak berwarna” Komentar sahabatku di status facebooknya (ketika hanya kami berdua yang balas membalas komentar)mengingatkan aku yang pernah berkata demikian ketika dia bermasalah di beberapa waktu yang lampau.Ketika itu masalahnya, rasa-rasanya adalah masalah yang cukup pelik karena berkenaan dengan hati dan perasaan. Masa di mana dia merasa hidup tidak menjadi sesuatu yang harus dipertahankan lagi, ketika pada suatu jenak dia sempat berpikir untuk pergi saja dari dunia ini. Mungkin juga kalimat ini adalah kalimat yang tak bosan-bosan kusampaikan di kesempatan lain dengan keadaan yang sama (ada saatnya ketika hal yang sama menjadi ujian dalam hidupmu yang datang berulang-ulang karena Tuhan menginginkanmu menjadi kuat untuk hal-hal seperti itu, atau untuk mempersiapkan hatimu untuk menghadapi sesuatu yang lebih besar, lebih pelik dan lebih menguras energi di masa yang akan datang).

Aku selalu berkata padanya (dalam konteks kalimat yang mungkin berbeda-beda),”Hidup ini begitu monoton dan membosankannya jika tak memiliki masalah dsn keadaan yang berbeda-beda. Ada masanya ketika kita gembira, tertawa riang sampai rasanya sanggup berguling-guling di lantai, ada masanya ketika kita harus terisak menangis tersedu-sedu hingga rasanya sanggup membenamkan diri di dasar bumi.Karena rupa-rupanya itu merupakan ketentuan Ilahi Sang Maha Pencipta, maka ketika datang masanya untuk kita gembira, bergembiralah, berbahagialah. Dan ketika datang masanya bersedih dan menangis, maka hadapi dan jalanilah. Toh semua kepedihan dan kegundahan yang menyesakkan dada dan seolah-olah tak akan berakhir itu ternyata berkesudahan juga. Terlewati juga. Dan satu hal yang pasti, ketika kita dengan ikhlas menerima semua keadaan dan episode hidup yang bertolak-belakang itu, hati kita menjadi kuat, hati kita menjadi kaya. Batin kita akan terpenuhi dengan kemegahan rasa yang akan membuat kita takjub akan Kepiawaian Sang Maha Pembuat Skenario Kehidupan. Bayangkan bagaimana hati, yang note bene ada dalam diri manusia yang sejatinya lemah, menjadi kuat dengan adanya masalah yang hadir. Dan dengan kekuatan hati yang bertambah itulah maka kita lebih ringan menjalani hari-hari di dunia yang semakin lama semakin aneh bin ajaib keadaannya J.

Itulah aku, sikap dan pilihanku ketika ada seorang sahabat menyatakan merasa lemah oleh keadaan. Tetapi tentu saja tidak manusiawi jika aku selalu menjadi sekuat itu memandang masalah. Tibalah masanya, ketika aku merasakan hal yang serupa dengan apa yang dialami sahabatku.  Merasa dunia begitu sempit, merasa jiwaku terkoyak-koyak dan tercerabut hingga ke akar-akarnya. Senyum begitu susah terkembang, wajah muram tak berseri dan mata tak lagi ceria berbinar. Kemana diriku yang biasanya menguatkan sahabatku dengan segala kalimat-kalimat yang memotivasi itu??

Maka mungkin beginilah keadaan sahabatku saat dulu.Lupa.Aku melupa.Aku lupa bahwa ada kalimat-kalimat sakti yang bisa membuat segalanya bisa dipandang dengan lebih bijak, lebih indah. Aku hanya berkutat dan berputar-putar di sekitar hatiku dan segala keluhanku. Aku merasa stuck, tak bisa pergi dari lingkaran gelap yang mengelilingi.Aku dikungkung dan merasa terbelenggu oleh keadaan yang tak mengenakkan itu. Seolah-olah hidupku hanyalah soal ini. Seolah-olah kebahagiaanku tak akan pernah datang. Tak bisa disalahkan, karena memang itulah yang dirasakan.

Maka tugas(wow!)seorang sahabatlah (pasangan hidup atau keluarga)untuk mengingatkan. Tak perlu kalimat indah puitis yang berbaris-baris atau mencapai puluhan paragraf. Cukup satu dua kalimat sederhana. Bisa jadi mungkin kalimat yang pernah diucapkan dulu.Tak perlu menghakimi, cukup mengingatkan. Tak perlu menggurui, cukup bersimpati dan jika mampu berempati, itulah yang terbaik. Karena hati yang sedang dirudung masalah, akan menjadi semakin lelah tak berdaya jika vonis, hujatan atau tudingan ditujukan padanya. Kau takkan pernah tahu, sedalam mana kalimat itu akan membekas di hatinya, mencerahkan pikirannya dan melahirkan senyum serta pemahaman bahwa semua yang berat itu adalah warna-warni hidup. Warna-warni yang indah bila nikmati, bukan dirutuki. Kau tak pernah tahu, kalimat-kalimat sederhana yang penuh kasih darimu, bisa jadi telah menyelamatkan hidupnya. Maka benarlah ajaran agama yang menganjurkan agar kita saling ingat-mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
              So,Please be my reminder and I’ll be your reminder, forever. Jadilah pengingat untukku, dan aku akan jadi pengingat untukmu, selalu. Insya Allah. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita pribadi-pribadi yang kuat dan saling menguatkan, ingat dan saling mengingatkan.

Rupa Seumpama Kaca

Satu benderang
Tegak di atas amarah dan kegundahan
Seakan dikorek semua potensi
Kau tak pernah tau luka itu perih

Kemarin tunduk dan duduk
Terima titah dan petunjuk
Hanya mengangguk
Kemudian terantuk

Apakah ego telah terbaca
Saat detik-detik mengaca
Dalam rupa seumpama kaca
Cahaya-cahaya pecah
Dan warna merah marah
Ringkih menukik
Satu-satu daun terpetik
Angin mendelik
Terbangkan indah

Hingga di dasar basah
Air mata menggenang resah

Permata Anawai@4 Juni 2014