Pages

Tuesday, December 16, 2014

Hujan Membasuh Jiwa

Hujan membasuh gerah
 Hujan membelai lelah
Titik-titik berjuta mengiringi mentari untuk rehat
Koyak sudah kemarau yang parau, kemarin...

Adakah hatimu terbasuh jua
Ketika kerontangnya hampir terbelah karena penat
Terguyurkah kepedihan di dalam sana
Ketika berhari-hari kau terus berpikir, lelah.
Ketika berminggu-minggu hatimu terbebani resah, berat.

Hujan menarikan irama suka cita Ketika cintamu mengering begah
Suaranya melagukan bahagia
Mengusir gundah yang mengalahkan sayangmu, kemarin. ..

Riuh pesta semesta meningkahi hujan
Angin, gemuruh, guntur, kilat, halilintar Iya, mereka ada tak perlu dinafikan!
Semata ada untuk berkata-kata
Hidup tak hanya luka
Tak sekedar duka, beban dan amarah
Hidup juga suka
Teman riang,tawa, hikmat dan damai
Tak perlu bersikeras, terima dan nikmatilah!

Hujan melenakan siang yang terik tadi
Adakah ia telah menyejukkan dan membasuh jiwamu?

Permata Anawai @ 17 Desember 2014
*hujan deras










































Monday, December 15, 2014

Kau Permata

Kau permata...
 Meski banyak yang melihatmu hanya sebagai batu
 Teronggok dalam rupa yang tak sempurna
 Jauh di dasar sana hatimu berkilau

 Kesabaran yang kau pegang erat
 Keimanan yang kau pelajari dan yakini
 Keromantisan yang jadi petunjuk kasih sayangmu
 Menempa dan membentukmu dalam seindah-indahnya pribadi
 Senyum jenaka yang kau sunggingkan saat pertama jumpa dulu
 Adalah senyum terindah yang membuatku jatuh hati
 Senyum dan kepolosan yang menyentuh relungku
Menikamkan rindu ke dasar jiwaku Menguatkan aku untuk memeluk ragamu Memutuskan aku untuk menjadi ibumu Tanpa ragu!
Kau permata hatiku..

 Permata Anawai @ 15 Desember 2014
*M3



























Saturday, December 13, 2014

Kemana Hikmah Bersembunyi?

Tersesat dalam benderangnya hari
Menggelap dalam terangnya petunjuk hati
Kemana ia, kasih sayang dan kelembutan
Hanya ada amarah dan kekecewaan

Satu-satu hari berguguran
Kemana hilangnya hikmah yang biasa datang
Apakah kerasnya hati sudah meraja?
Air mata seolah telah kering kerontang

Senyummu, wahai perempuan..
Pantaskah kau sunggingkan di masa kelam ini?
Ketika jiwa berontak hendak mengembara
Mencari tempat dimana seharusnya ia rehat
dan menutup mata dengan sempurna
Karena hidup sudah sedemikian penuh
Penuh akan cinta
Dengan iman dan kesadaran utuh
Tugas kekhalifahan telah ditunaikan

Kemana ia Engkau sembunyikan,
Wahai Pemilik Segala Hikmah?

Permata Anawai @27'11'14

Benderang Kau

Benderang kau
Ataukah sinarmu memang menyelinap ke mataku?
Perisai-perisai waktu dan keangkuhan
Gugur berjatuhan dalam kata yang kau ujar
Bukan salahmu semua mata tertuju
Jauh di dasar hatimu kau menginginkannya
Pun kau tengah di atas keindahan pandangan
Sampai tak sadar ada tatapan busuk mencemooh
Menelenjangi setiap celah
Kau tak lagi sebenderang itu

Benderang kau
Ketika kerdip cahaya terakhir dari sebuah tatapan mengusir indah menyergap
Kau tak peduli
Padanya yang menelan luka
Meneguk satu demi satu nafas kedengkia n

Bagimu kini adalah kala
Masa waktu ketika kau berkata
Kau pun ingin bahagia
Dengan ujar dan kata-kata puitis
Obsesi.

Permata Anawai @ 12'12'14
*Langit-Bumi

Friday, November 28, 2014

Episode (tak) Baru Hidupku

Delapan minggu yang membahagiakan sejak suatu pagi ketika aku berdebar membaca hasil tespack yang menunjukkan strip dua. Yes, I'm Pregnant! Setelah menunggu setahun lebih sejak keguguran keduaku, aku positif hamil. Saking bahagianya aku tak menghiraukan kenyataan bahwa siang itu aku harus terbang ke Makassar untuk mengikuti kegiatan kantor. Penerbangan dan kegiatan selama tiga hari kujalani dengan riang. Aku sempat mencari suplemen yang sejak kehamilan kedua dulu kukonsumsi karena merasa cocok. 

Delapan minggu kujalani hariku dengan ikhlas dan sangat berharap pada janinku kali ini. Mual, muntah, sakit pinggang, demam, dan sebagainya tidak mengalahkan melayangnya perasaanku karena bahagia. Bos dan teman-teman kantor juga sangat pengertian dengan kehamilanku kali ini. Tapi tetap saja terselip rasa cemas karena pernah mengalami dua kali keguguran. Aku harus tetap memeriksakan kehamilan ini.

Setelah tertunda oleh padatnya pekerjaan kantor di akhir tahun plus antrian panjang di klinik kandungan yang direkomendasikan banyak teman, di minggu ke delapan aku berkesempatan bertemu dengan dokter cantik  manis dan lemah lembut. 
Dengan senyum manisnya dia bertanya apakah aku punya keluhan selama delapan minggu ini. Aku jawab, "Biasa saja seperti layaknya ibu hamil lainnya, morning sickness" Maka aku diminta bersiap untuk menjalani USG. Tenyata hasil USG sangat membuatku hatiku kalut sekalut-kalutnya. Aku mengalami Bligthed Ovum atau lebih dikenal dengan kehamilan kosong.   Semua ciri dan gejala ibu hamil akan kurasakan. Janinnya pun sebenarnya ada, tak mengalami pertumbuhan. Hingga minggu ke delapan, jantung yang seharusnya sudah berdetak malah tak terdengar. Tak ada organ yang tumbuh. Semua ini dikarenakan bibitnya yang kurang bagus sehingga ada kelainan kromosom. Faktor kelelahan dan stress dari orangtua menyebabkan hal ini. Karena mau tak mau janinnya akan keluar juga, dan daripada terjadi pendarahan, kuretase adalah satu-satunya jalan penyelesaian masalah ini. Oh Tuhan! Serasa dihantam palu besar yang tak terlihat. Dadaku rasanya sesak, susah bernafas dengan normal. Buah hati yang sudah kutunggu sejak dua tahun pernikahan. Penantian setelah keguguran pertama kali di tahun 2012 dan kemudian berharap lagi setelah keguguran kedua di tahun 2013 ini akan pergi juga?

Aku melangkah gontai meninggalkan ruang klinik setelah membuat janji tak bertanggal dengan sang dokter untuk datang menjalani kuretase. Dengan bijak, dokter yang manis itu bersimpati dengan berkata bahwa hal seperti ini memang harus dipikirkan dan dirundingkan dulu dengan keluarga besar. Aku dan suami terdiam di sepanjang perjalanan pulang kami. Sesampainya di rumah, beberapa saat lamanya aku hanya bisa terdiam. Seolah dunia ini gelap saja rasanya. Bertubi-tubi pikiran buruk datang menghantuiku.
 "Bisakah kelak aku hamil dan punya anak?"
"Apakah memang aku benar-benar tak pantas?''. 
"Sakit apakah sebenarnya aku?"
"Siapakah yang salah dalam hal ini, aku kah?"

Terdiam lama di samping suami yang tak biasanya tak bisa melucu, tangis lirihku akhirnya tumpah. Aku semakin terisak ketika suamiku mendekapku, menenangkanku dan berkata banyak, yang paling kuingat adalah bahwa kami akan menjalani medical chek-up setelah kuret nanti. "Tak apa-apa, daripada anak kita jadi tak jelas jenis kelaminnya, jadi bencong karena kelainan kromosomnya itu mending dikeluarkan saja" katanya sambil tersenyum. Senyumku akhirnya muncul juga.

Dan, minggu lalu di minggu ke dua belas kehamilanku, kami akhirnya memutuskan ke rumah sakit untuk menjalani kuret itu. Tak dapat kutahan tangisanku mengingat kehilangan yang akan datang di hidupku lagi. Episode baru yang tak baru lagi di hidupku. Bagaimana pun janin ini pernah membuatku begitu bahagia, tapi pada akhirnya akan kurelakan juga demi kebaikan kami berdua. Selamat jalan sayang, maaf mungkin di akhirat pun kita takkan akan bertemu, karena nyawa pun belum ditiupkana di ruhmu. Tetap hampa saja rasanya ketika aku tersadar dari pengaruh anastesi yang diberikan. Tapi senyumku tetap ada, aku tetap bahagia karena keluarga setia menemani dan teman-teman pun menjenguk tanda sayangnya padaku. Terima kasih untuk semuanya. Aku bahagia tetap berada di tataran syukur atas segala takdir dan karunia dan atas episode hidup yang digariskan untukku.

Terima kasih pula aku memiliki suami, mama, saudara dan sahabat yang senantiasa ada untukku.
Terima kasih Allah yang senantiasa menyertaiku di setiap episode hidupku. Engkaulah Yang Maha Berkehendak. Aku ikhlas.

Permata Anawai @ 28 November 2014