Pages

Monday, July 21, 2014

Surat Untuk Para Ibu di Palestina



Wahai Ibu yang dimuliakan dengan melahirkan anak-anak yang syahid
Betapa kuatnya jiwamu menahan perasaan
Ketika bangun tak selalu mendapat kenyataan anak kesayangan berlari bermain
Tetapi berdebar mencemaskan keselamatannya di tiap menit waktu
Ketika hendak menidurkan mereka pun kau ceritakan cerita syahid dari pendahulu
Cerita pejuang yang mempertahankan tanah kelahiran
Bukan dongeng putri dan pangeran kerajaan yang imajinatif

Wahai Ibu yang dimuliakan dengan melahirkan anak-anak yang syahid
Betapa kuatnya jiwamu menahan perasaan
Ketika menenangkan resah dan degup tercinta dari serangan-serangan mematikan yang hadir dari waktu ke waktu
Ketika mengobati anak tercinta yang terluka dengan kain sekedarnya
Memberi senyum terbaik dan keteguhan hati untuk setiap lara
Tak terpikir memberikan video game apa jenis terbaru

Wahai Ibu yang dimuliakan dengan melahirkan anak-anak yang syahid
Betapa kuatnya jiwamu menahan perasaan
Ketika mengajak pewaris generasimu sahur dan berbuka dengan sajian sekedarnya di tengah desing dan gemuruh roket menghantam rumah-rumah
Mendekap sayang dan mengusir ketakutan di hati si kecil
Bukan sibuk memikirkan baju dan perabotan baru untuk berlebaran

Dari senyum dan matamulah Ibu, bagi mereka dunia tetap aman
Dari pancaran jiwamulah, bagi mereka surga itu terasa dekat
Sungguh memang begitu dekatlah surga Allah bagi kalian.

Kendari @ 17 Juli 2014

Sunday, July 6, 2014

Please Be My Reminder and I’ll Be Your Reminder, Forever.



“Hidup terasa hambar kalau tak berwarna” Komentar sahabatku di status facebooknya (ketika hanya kami berdua yang balas membalas komentar)mengingatkan aku yang pernah berkata demikian ketika dia bermasalah di beberapa waktu yang lampau.Ketika itu masalahnya, rasa-rasanya adalah masalah yang cukup pelik karena berkenaan dengan hati dan perasaan. Masa di mana dia merasa hidup tidak menjadi sesuatu yang harus dipertahankan lagi, ketika pada suatu jenak dia sempat berpikir untuk pergi saja dari dunia ini. Mungkin juga kalimat ini adalah kalimat yang tak bosan-bosan kusampaikan di kesempatan lain dengan keadaan yang sama (ada saatnya ketika hal yang sama menjadi ujian dalam hidupmu yang datang berulang-ulang karena Tuhan menginginkanmu menjadi kuat untuk hal-hal seperti itu, atau untuk mempersiapkan hatimu untuk menghadapi sesuatu yang lebih besar, lebih pelik dan lebih menguras energi di masa yang akan datang).

Aku selalu berkata padanya (dalam konteks kalimat yang mungkin berbeda-beda),”Hidup ini begitu monoton dan membosankannya jika tak memiliki masalah dsn keadaan yang berbeda-beda. Ada masanya ketika kita gembira, tertawa riang sampai rasanya sanggup berguling-guling di lantai, ada masanya ketika kita harus terisak menangis tersedu-sedu hingga rasanya sanggup membenamkan diri di dasar bumi.Karena rupa-rupanya itu merupakan ketentuan Ilahi Sang Maha Pencipta, maka ketika datang masanya untuk kita gembira, bergembiralah, berbahagialah. Dan ketika datang masanya bersedih dan menangis, maka hadapi dan jalanilah. Toh semua kepedihan dan kegundahan yang menyesakkan dada dan seolah-olah tak akan berakhir itu ternyata berkesudahan juga. Terlewati juga. Dan satu hal yang pasti, ketika kita dengan ikhlas menerima semua keadaan dan episode hidup yang bertolak-belakang itu, hati kita menjadi kuat, hati kita menjadi kaya. Batin kita akan terpenuhi dengan kemegahan rasa yang akan membuat kita takjub akan Kepiawaian Sang Maha Pembuat Skenario Kehidupan. Bayangkan bagaimana hati, yang note bene ada dalam diri manusia yang sejatinya lemah, menjadi kuat dengan adanya masalah yang hadir. Dan dengan kekuatan hati yang bertambah itulah maka kita lebih ringan menjalani hari-hari di dunia yang semakin lama semakin aneh bin ajaib keadaannya J.

Itulah aku, sikap dan pilihanku ketika ada seorang sahabat menyatakan merasa lemah oleh keadaan. Tetapi tentu saja tidak manusiawi jika aku selalu menjadi sekuat itu memandang masalah. Tibalah masanya, ketika aku merasakan hal yang serupa dengan apa yang dialami sahabatku.  Merasa dunia begitu sempit, merasa jiwaku terkoyak-koyak dan tercerabut hingga ke akar-akarnya. Senyum begitu susah terkembang, wajah muram tak berseri dan mata tak lagi ceria berbinar. Kemana diriku yang biasanya menguatkan sahabatku dengan segala kalimat-kalimat yang memotivasi itu??

Maka mungkin beginilah keadaan sahabatku saat dulu.Lupa.Aku melupa.Aku lupa bahwa ada kalimat-kalimat sakti yang bisa membuat segalanya bisa dipandang dengan lebih bijak, lebih indah. Aku hanya berkutat dan berputar-putar di sekitar hatiku dan segala keluhanku. Aku merasa stuck, tak bisa pergi dari lingkaran gelap yang mengelilingi.Aku dikungkung dan merasa terbelenggu oleh keadaan yang tak mengenakkan itu. Seolah-olah hidupku hanyalah soal ini. Seolah-olah kebahagiaanku tak akan pernah datang. Tak bisa disalahkan, karena memang itulah yang dirasakan.

Maka tugas(wow!)seorang sahabatlah (pasangan hidup atau keluarga)untuk mengingatkan. Tak perlu kalimat indah puitis yang berbaris-baris atau mencapai puluhan paragraf. Cukup satu dua kalimat sederhana. Bisa jadi mungkin kalimat yang pernah diucapkan dulu.Tak perlu menghakimi, cukup mengingatkan. Tak perlu menggurui, cukup bersimpati dan jika mampu berempati, itulah yang terbaik. Karena hati yang sedang dirudung masalah, akan menjadi semakin lelah tak berdaya jika vonis, hujatan atau tudingan ditujukan padanya. Kau takkan pernah tahu, sedalam mana kalimat itu akan membekas di hatinya, mencerahkan pikirannya dan melahirkan senyum serta pemahaman bahwa semua yang berat itu adalah warna-warni hidup. Warna-warni yang indah bila nikmati, bukan dirutuki. Kau tak pernah tahu, kalimat-kalimat sederhana yang penuh kasih darimu, bisa jadi telah menyelamatkan hidupnya. Maka benarlah ajaran agama yang menganjurkan agar kita saling ingat-mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
              So,Please be my reminder and I’ll be your reminder, forever. Jadilah pengingat untukku, dan aku akan jadi pengingat untukmu, selalu. Insya Allah. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita pribadi-pribadi yang kuat dan saling menguatkan, ingat dan saling mengingatkan.

Rupa Seumpama Kaca

Satu benderang
Tegak di atas amarah dan kegundahan
Seakan dikorek semua potensi
Kau tak pernah tau luka itu perih

Kemarin tunduk dan duduk
Terima titah dan petunjuk
Hanya mengangguk
Kemudian terantuk

Apakah ego telah terbaca
Saat detik-detik mengaca
Dalam rupa seumpama kaca
Cahaya-cahaya pecah
Dan warna merah marah
Ringkih menukik
Satu-satu daun terpetik
Angin mendelik
Terbangkan indah

Hingga di dasar basah
Air mata menggenang resah

Permata Anawai@4 Juni 2014

Tanya Tentangmu

Ketika sapa hanya menggema
Tanpa jawab atau sekedar senyum
Ketika itu hati meragu
Benarkah kita pernah saling merindu?

Bait-bait pertanyaan meniti detik-detik
Kau berpaling tak menoleh
Saat itu keyakinan mulai goyah
Benarkah dulu kau pernah jadi duniaku

Segala janji dan pemanis kata
Membaur dalam udara dan angin musim timur
Terapung terombang-ambing
Titik-titik hujan menderas
Hapus kenangan yang lekat di memori

Ada apa dengan hatimu
Ada apa dengan rasamu
Kau datang hanya untuk pergi lagi
Mengusik jiwa yang coba melupa

Permata Anawai @17 Mei 2014

Daun-daun Kering

Daun-daun kering tertiup angin
Gerah musim yang tak pasti mengayun mengombang-ambingkan
Pucat warna itu selamanya tak terlihat
Kerisik terinjak pun tak akan bernada

Daun-daun kering melayang layu
Membelah pedih yang meruap di kisi-kisi jendela
Derit-derit engsel pintu dan daun lemari berbisik
Tapi tak pernah barang sejenak untuk peduli

Daun-daun kering mencium tanah basah
Merah padam dan panasnya cuaca tak lagi aneh
Itu biasa, itu lumrah, wajar saja
Seperti jarum yang bergerak satu-satu
Berputar kembali melewati riuh
Tak ada yang aneh
Tidak ada yang ajaib

Seperti juga lirih isak bumi
Ketika langit melupakan cahaya

Permata Anawai@11 Maret 2014