Pages

Monday, February 17, 2014

Aksara Sahabat

semalam, kulihat aksara seolah melayang dari langit dingin
di antara lirih dan lelah yang bergelayut di raga kita
senyummu membuatku kuat melawan takut dan lemah
dalam bahasamu mengisi kosongnya jiwa yang sempat kutinggalkan
bila kuingat lagi, mataku berkaca hampir pecah oleh tangis
selalu hanya kau yang membuatku berkisah sedemikian panjang, sahabat...
terima kasih yg tak berujung...

Kita Sukanya Melihat Hasil, Bukannya Proses (refleksi siang dingin)

Di kehidupan sehari-hari, menanggapi kejadian/peristiwa yang terjadi di depan mata, kita manusia senangnya memilih sikap praktis, instan dan malas pusing. Kita lebih suka langsung menanggapi sesuatu, memberi komentar dan biasanya kritikan tanpa mau secara dalam memikirkan (jika kita memang benar-benar peduli) kenapa seseorang berada pada situasi seperti yang terlihat. Bagaimana ia awalnya menjalani hal tersebut, alasannya dan faktor-faktor apa saja yang kira-kira bisa mempengaruhi sesuatu itu bisa terjadi. Kita tidak benar-benar peduli seberapa berat bagi dia (mungkin saja) berkeputusan. Kita tidak peduli seberapa berat dia menata hati dan mungkin saja pada saat kita menilai dia dengan kritikan, dia sedang berusaha mati-matian untuk memperbaiki diri.

Kemudian, rasanya menjadi tidak adil jika selalu saja menghakimi seseorang tanpa benar-benar tahu proses yang dia jalani. Dan kalaupun ternyata penilaian kita benar, mestinya kita haruslah segera menyadari bahwa tak ada manusia sempurna di dunia ini. Maklumlah dengan sgala kekurangan orang lain, sebagaimana kita ingin dimaklumi ketika kita berada di situasi yang sulit dan ternyata memilih sikap yang salah.

Sesuatu hal yang mungkin bisa jadi penghibur ketika kita di pihak yang dinilai ; bahwa penilaian Tuhan lah yang paling utama, penilaian manusia hendaklah tidak terlalu dirisaukan :)



Semua Punya Jatahnya ( Rezeki Tak Pernah Tertukar)

Benar dan yakinlah! Semua orang punya jatah rezekinya sendiri. Tak akan pula tertukar. Itu sudah janji Tuhan, dan Tuhan tidak akan pernah menyalahi janjiNya. Entah seberapa kuat kita mengeluhkan kurangnya rezeki atau tidak sesuainya takaran itu menurut perhitungan kita, sebagai manusia. Entah seberapa seringnya orang-orang mengungkapkan betapa kita telah dizalimi dan ditahan keran rezekinya oleh pihak-pihak lain selain diri kita. 

Merasa cukuplah dengan apa yang diberikan, syukurilah apa yang ada untuk kita, sehingga hati kita mejadi lebih lega dan tidak menjadi semakin sempit dan gundah. Syukurilah sambil terus berusaha mencari jalan pencapaian rezeki itu dengan cara-cara yang benar, dengan cara-cara yang terhormat da tidak menurunkan harga diri. Jagalah kemuliaan dengan tidak ngotot meminta dan akan kita dapatkan kenyataan bahwa jika memang sesuatu itu adalah rezeki kita, jalan untuk mendapatkannya akan selalu terbuka (mungkin dengan cara yang tidak kita sangka-sangka) dan akan sampai juga ke tangan kita. Dan sebaliknya, sengotot apa pun kita meminta dan memprotes, jika belum/bukan rezeki maka sesuatu itu akan pergi bahkan ketika sesuatu sudah di depan mata.

So, woles ajah :)
 

Wednesday, January 15, 2014

Bisa-bisa Aku Terbunuh

Bisa-bisa aku terbunuh
Ditikam sepi dan sendiri
Dikungkung jeruji ketidakberdayaan
Atas nama cinta dan sayang

Bisa-bisa aku menyerah
Kalah oleh waktu yang terus menggilas
Dihimpit ruang kekerdilan
Atas nama cinta dan perasaan

Bisa-bisa aku terbunuh
Bukan oleh pedang dan kata
Namun tercekik oleh kesunyian
Di mana aku tak pernah bisa berbagi tawa
Hanya menghitung pedih dan nelangsa
Meletakkannya hanya untuk sebagai monumen
Atas nama cinta dan perasaan

Bisa-bisa aku terbunuh
Oleh cinta dan sayang
indah, salah kaprah!

PA@020913

Pergilah Kau

Pergilah kau bersama air yang deras mengalir
Carilah tempatmu di belahan bumi manapun bersama setiap hela nafas
Ketika tiap kata kugores-goreskan satu-satu dan kuat-kuat di lembar catatanku
Mendekamlah kau di gelap dan kelam semesta yang tak terlihat oleh mata siapa pun

Jangan pernah memunculkan diri ketika ambang sabarku sudah terlampui
Jangan pernah hadir di saat aku jerih oleh pengap suasana
Jangan pernah mewujud ketika aku dan dia tak bisa lagi tertawa
Jangan pernah bersuara di saat setiap yang ada terdiam kelu

Kau... aku tak membencimu
Aku pahami entitasmu
Aku syukuri adamu
Hanya saja..aku ingin kau pergi
Atau kita berdua akan sama-sama mati

PA, 11-11-13