Pages

Sunday, August 9, 2015

Bising Riuh Yang Tak Menyebalkan

Sambil mengerjakan rupa-rupa pekerjaan dapur, ibu-ibu saling bercerita,tersenyum simpul hingga tertawa cekikikan. Di luar rumah sambil mendirikan tenda, membelah kayu, dan sebagainya, Bapak-bapak saling berseru dan kompak bekerja. Canda tawa diselingi perintah bagi remaja-remaja laki-laki yang bergaya ala pemain sinetron. Suara anak kecil riang berlarian hingga menangis, tak peduli teriakan ibunya. Anjing-anjing di kolong rumah sibuk menggonggong dan mengais-ngais sisa makanan. Ayam-ayam jantan mulai berkelahi tak nyaman di kandang yang begitu sempit. Toh pada akhirnya akan mati juga tersembelih siang nanti. Satu ayam betina di sudut panggung rumah mulai berkeok-keok, merasa telur yang dieraminya terancam orang yang lalu lalang. Di ruang tamu, para tetua hikmat berbicara mahar dan adat. Semua sibuk bersuara. Bising. Tapi tak menyebalkan. Malah makin menyenangkan ketika di tengah kebisingan dan keriuhan ini mulai menguar aneka wangi aroma masakan tradisional dari arah dapur. Aih, aku yang biasanya sangat terganggu dengan suara berisik jadi tersenyum-senyum. Kontras dengan sang calon pengantin yang tadi lirih meminta paracetamol. ^_^ 

@kampung suami, persiapan pernikahan sepupu.

Thursday, August 6, 2015

Hangat Peluk Doa di Hari Ulangtahun

Hari-hari dingin belakangan ini tetiba saja menjadi hangat. Sehangat pelukan doaku untuk sahabatku yang hari ini berbahagia. Happy birthday my dear, Silvia Silce.. Doa dan harapan-harapan ini rasanya tak pernah cukup untuk diungkapkan oleh barisan kata kalimat indah sekalipun. Membayangkan senyum bahagiamu menyambut pagi telah berhasil mencerahkan hariku dan hatiku. Betapa aku merindukanmu... 
Raha, 6 Agustus 2015

Monday, July 20, 2015

Terimakasih, Tiga Tahun!

Alhamdulillah...tiga tahun sudah usia pernikahanku dan suami. Tiga tahun yang begitu berwarna dengan rupa-rupa tinta masalah dan kebahagiaan. Tiga tahun yang telah mencetak kenangan pedih dan indah secara bersamaan, yang dengannya hidupku menjadi lebih megah oleh cinta dan pengertian. Tiga tahun ini aku mengalami banyak hal-hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Untuk hal-hal baru yang kurang menyenangkan, aku berterimakasih ada engkau suamiku yang selalu menggenggam jemari dan mendekap lembut. Untuk hal-hal yang menakjubkan, aku berterimakasih pada engkau suamiku yang telah mengenalkan. Di atas segala rasa terimakasihku, terimakasih yang tak bertepi kepada Engkau Allah, Pencipta dan Penuntun kami. Terimakasih atas pengawasan dan keberadaanMu yang selalu terasa. Terima kasih atas doa dan harapan-harapan yang terkabul. Terimakasih atas cinta yang Engkau sematkan di relung hati kami. Terima kasih untuk semua nikmat karunia, anugerah dan kebahagiaan yang  Engkau taburkan untuk kami sekeluarga. Cenderungkan hati kami selalu kepadaMu. Jadikan keluarga kami keluarga yang sakinah mawaddah warahmah yang senantiasa bersyukur padaMu. Terimakasih atas kehidupan kebersamaan selama tiga tahun ini. Kadang-kadang, aku jdi malu dan susah untuk berkata-kata untuk semua hal yang mencengangkan ini.                                                       @Tampo, 17 Juli 2015 (Ulangtahun pernikahan)






Friday, July 10, 2015

Berkabung

Jiwa lembut itu telah dipanggil pulang 
Telah tenang keharibaan Sang Pencipta Tak ada satu makhlukpun yang kan bisa mengelak 
Takdir telah berkuasa atasnya 

Wajah damainya mewarnai wajah berkabung kami yang ditinggalkan
Namun keikhlasan akan mengantar perginya 
Semoga Ilahi Rabbi menempatkannya di tempat terbaik 

Engkau Allah sajalah tempat kami menyandarkan kepedihan 
Engkau Yang Maha Perkasa, Maha Mulia dan Maha Pengampun
 Ampunilah jiwa-jiwa kami yang kadang ingin berontak dengan keputusanMu 
Ampunilah jiwa ruh orangtua kami yang telah Engkau panggil ini

Ganjarlah ia dengan JannahMu Serta kesejahteraan dalam kuburnya.
 Amien.. 

@Tampo, 11 Juli 2015 
Ditinggal om tersayang, La Age

Thursday, July 9, 2015

Anak-anak Surga

Subuh tadi, anak-anak surga mengunjungiku. Bocah laki dan perempuan, lupa kuhitung jumlahnya. Rupa mereka begitu menawan, bersih, mengenakan jilbab dan peci. Dipandu adikku, Vina, anak-anak ini bersemangat tampil menghafalkan doa dan surat-surat pendek di depanku. Bapak tertawa-tawa di samping kananku. Sayang, karena aku memang kurang antusias mereka kuusir pergi. Setelah Vina mandi (di bak mandi yang bentuknya aneh,di salah satu sudutnya ada lubang yang ditutupi dengan batu akik hitam dan putih berkilau sebesar batu pondasi) dan pergi, anak-anak ini kembali berlarian di depan kamar. Lagi-lagi aku mengusir mereka, tapi ada satu anak perempuan berkulit putih berjilbab putih yang tidak bergeming.. Dia terus memandangiku dengan pandangan yang membuat jantungku berdebar aneh,berdesir halus dan entah kenapa membuat wajahku memanas. Ketika teman-temannya telah pergi, dia malah ngotot bersembunyi di balik ranjang dengan tetap menatapku. Aku mulai terpesona dengan kegigihannya dan membiarkannya tetap di sana hingga aku memutuskan mandi.Sebelumnnya seseorang dari luar kamar menyuruhku menyalakan saklar lampu yang keenam menyusul lima lainnya yang telah lebih dulu . Kemudian aku mandi dan membuka mata. Benarkah ada anak-anak dari surga?siapa mereka?
*dream