Pages

Tuesday, February 24, 2015

Kamuflase Ikhlas (Sebentuk Refleksi Diri)

Begitu banyak doa indah yang dilantunkan teman, sahabat, kenalan dan keluarga di hari istimewa di mana genap masanya jatah usiaku di dunia berkurang, kemarin. Semoga doa-doa itu kembali mewujud dalam kehidupan mereka yang ikhlas tulus meluangkan perhatian untukku. Di antara sekian doa, yang paling menarik hati adalah soal keikhlasan. Rasanya maluuu sekali diri ini, yah memang...soal kadar ikhlas ini cuma aku dan Allah sendiri yang tahu benar. Bahkan terkadang, aku sendiri pun terjebak dengan pengakuan diri sebagai seorang yang ikhlas tetapi pada prosesnya setan tak berhenti menggiring ke arah sebaliknya. Sedikit demi sedikit, dengan cara yang paling halus dan menipu. Kamuflase ikhlas semata akhirnya pun tak disadari bercokol. Dan terima kasih buat mereka, orang-orang terkasih yang mengingatkan melalui doa indahnya. Semoga keikhlasan kita semua dijaga oleh Allah. Memang tak mudah untuk selalu menjadi pribadi ikhlas, tapi itu bukan hal yang mustahil.

_refleksi hari lahir_

Sunday, February 22, 2015

Salute to U,My Friends..Great Super Mom ^_^

Rasanya masih kemarin kami bersama menjalani ospek yang 'menyiksa', sekarang tiga cewek-cewek lugu dan manis lima belas tahun lalu itu sudah menjelma menjadi ibu-ibu yang sibuk dengan karirnya masing-masing, yang hebatnya karir itu bukan hanya karir di luar rumah tapi juga karir di dalam rumah yang mau tak mau harus diakui oleh kami bertiga sebagai karir super duper hebat di kolong jagat ini.

Tau kan betapa repotnya, bangun sebelum orang seisi rumah bangun. Menyiapkan makanan dan segala keperluan suami dan anak-anak. Memastikan semua telah tersedia sebelum kita sendiri siap berangkat ke kantor untuk tanggung jawab yang lain.  Di kantor, tanggung jawab pun tak kalah menyita energi. Belum lagi pulang kantor, para ibu, super mom yang berkarir ini harus berjibaku dengan rutinitas dan tanggung jawab yang pada saat mengerjakannya energi yang ada sudah mencapai émpty'

Dan kerepotan yang luar biasa itu, yang sudah kujalani sejak dua tahun lalu itu ternyata belumlah seberapa bila dibandingkan dengan dua teman spesialku ini. Ibu manis yang disebut-sebut ibu direktur, kerja di salah satu bank çantik (karna warnanya adalah warna favoritku) di kota ini sudah punya dua jagoan, sepasang putra-putri yang masih balita. Tapi kami berdua pun harus angkat jempol untuk teman lain, ibu dosen yang punya empat putra-putri. Mengajar di kendari setiap senin-jumat dan harus balik ke Unaaha untuk bertemu dua anak lainnya. Dua anak lainnya dibawa serta ke Kendari dan si bungsu harus disusui di setiap jam istirahat mengajarnya. Ibu direktur bank tak berhenti memuji..empat anak tak membuat ibu dosen ini jadi melar. Momok menakutkan untuk para ibu, hehe...

Padahal kan, mungkin saja si ibu dosen sama seperti diriku, yang memang bawaan lahirnya jadi perempuan yang always langsing walaupun sudah makan banyak-banyak,hihihii... Kalau aku sih, terutama sangat salut untuk mereka berdua yang sudah sedemikian hebatnya telah menjalani proses melahirkan yang  belum pernah kualami dan juga iri dengan kemandirian mereka membawa kendaraan sendiri :)

Di atas segala rasa iri, bangga dan salut yang hadir di pertemuan tadi, tentu saja kami tetap bahagia dengan peran hidup yang kami pilih sekarang, bersyukur telah menjalani proses kehidupan yang lumayan berwarna dan bersyukur setelah bertahu-tahun, kami akhirnya bisa berkumpul lagi. So, ibu direktur Fiko dan ibu dosen Reni, sepertinya pertemuan macam tadi harus jadi agenda bulanan. Mudah-mudahan bisa sambil nyalon bareng, hihihi. Sekali lagi, aku mo bilang : Salute to U,My Friends..U'r Great Super Mom!

Thursday, February 19, 2015

Taubat Sebelum Mati

Seorang bijak (tokoh masyarakat di kampung Maligano, di mana keluarga besar suamiku bermukim) berkata dalam suasana duka :
"Mungkin Allah meghukum hambaNya yang bahkan mendekati ajal pun tak bisa mengingat dosa masa lalunya, sehingga ia menjadi tak sempat bertaubat karenanya. Maka beruntunglah kita yang diberi kesempatan untuk bertaubat.Sehingga kita 'berakhir' dalam keadaan paling baik" 

Tuesday, February 17, 2015

Alangkah Tak Adilnya Kita Pada Tuhan



Wow! Betapa egoisnya seseorang yang tidak mau mengakui kesalahan. Karena gengsikah, atau malu atau apalah. Memang benar meminta maaf itu adalah sesuatu yang berat. Memaafkan pun demikian adanya. Membawa rasa bersalah atas akibat tidak meminta maaf dan memendam amarah atas akibat tidak memaafkan, keduanya menanamkan kegelisahan dalam hati dan mengusir kedamaian untuk jauh-jauh pergi.

Terlepas dari salah dan benarnya sikap kita dalam masalah tertentu, yang kebanyakan ternyata hanyalah produk dari sikap merasa, sesungguhnya jauh lebih penting untuk kewarasan jiwa kita adalah kenyataan bahwa hak kita untuk merasakan damai dan ketenangan jiwa kita. Mempertahankan diri untuk tetap dalam ‘ke-merasa-an’ salah benar kita hanya akan menumbuhkan tunas-tunas kebencian yang pada akhirnya akan membunuh.

Jika pada akhirnya kita benar terbunuh karena perasaan itu, alangkah tidak adilnya kita. Tidak  adil pada diri sendiri yang telah diciptakan bersih dan terutama pada Tuhan yang diawalnya telah menciptakan diri kita sebagai diri yang benar-benar bersih, fitrah dan suci. Betapa tidak adilnya ketika kita kembali menghadapNya dalam keadaan yang sebaliknya. Dan sejatinya,senyatanya diri kita sendirilah yang lebih butuh untuk menjadi damai.

@refleksi  akhir 17 Februari

Benarkah Temu Ini Membahagiakan?



Ketika mulut dan suara-suara terkatup
Pintu-pintu hati menjadi tertutup
Rasa-rasa tak lagi diketuk
Respek jauh terbang menukik

Sementara jawaban atas Tanya
Menunggu untuk ditulisi
Menanti untuk dibeberkan
Terduduk memandang realita

Tak lagi…
Hormat itu tak ada lagi
Antipasti meraja
Seandainya kau paham perihnya tak acuh
Menisik udara pun kau takkan menolak

Benarkah?
Benarkah temu ini membahagiakan?

Permata Anawai, 09 Februari 2015