Pages

Sunday, October 11, 2015

Laptop Putih Bukan Laptop Hitam!


Tampaknya benar bahwa untuk mengakui kelemahan, kekurangan dan kebodohan diri di depan orang lain itu memerlukan jiwa yang besar dan kebijakan tingkat tinggi. Karena pada saat seseorang mau melakukannya maka dia harus sudah siap dengan segala resikonya. Entah itu ditertawai, dicibir, dihina dan sebagainya yang kesemuanya itu membuat seseorang jadi malu dan bisa jadi merasa tersinggung. Kalau sudah demikian adanya, kelanjutannya akan jadi ribet dan runyam.
Nah, daripada malu dan tersinggung, biasanya seseorang yang sadar akan kelemahan, kekurangan dan kebodohannya ini  memilih untuk berdalih, dengan berbagai cara untuk menyembunyikannya. Kalau kata anak gaul sekarang : ngeles. Seperti cerita berikut ini.
Ada seorang Bapak yang tiba-tiba ngadat laptopnya. Dia lalu memanggil adiknya untuk menangani masalah ini.
Bapak            : “ Amir, kemari sebentar!”
Amir pun datang mendekat.
Bapak     : “ Coba kau lihatkan dulu laptopku ini kenapa. Supaya saya lihat juga hasilnya kau kursus tiga bulan pakai uangku.” (nada bercanda)
Amir    : “Oh tidak bisa!”, spontan Amir menjawab
Bapak            : “ Kenapa?”, kaget benar dia dengan jawaban si Amir
Amir   : “Iya, bagaimana bisa saya lihat masalahnya, ini laptop hitam. Selama ini kami belajarnya pakai laptop putih bukan laptop hitam!”





Tuhan Suka Ngajak 'Bercanda' (cuap-cuap curhat)




             Malam dingin dan senyum ramah di kunjungan keduaku. Aku tak seshock saat pertama kali mendengar vonis Blighted Ovum dari dokter. Sebenarnya karena didasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, aku tak kaget dan memang selalu mencemaskan hal ini sejak hari pertama aku positif hamil. Mendengar ini, aku hanya berpekik dalam hati :” What?BO again?Oh..come on! Tuhan memang suka skali mengajak bercanda!” Bukan apa-apa, kehamilan ini kujalani dengan percaya diri, setelah dokter kandungan sebelumnya menyatakan aku baik-baik saja, rahimku aman-aman saja. Tapi, yah...sudahlah! (mari kita bernyanyi bersama Bondan Prakoso). Bukan mau mengecilkan peran dokter kandungan di kehamilan sebelumnya, tapi kali ini sang dokter terlihat lebih meyakinkan dan menguasai ilmunya. Dia menganjurkan untuk melakukan serangkaian tes di laboratorium segera setelah aku menjalani kuretase. Penjelasannya pun panjang lebar disertai gaya bahasa yang memikat hati. Yang kumaksud memikat hati ini di sini adalah dia mampu dengan intonasinya yang tepat mengabarkan hal-hal buruk menjadi tidak begitu menakutkan dan memberikan semangat untuk tak berputus asa dengan senyuman dan kerlingan mata yang seandainya dia adalah seorang pedagang, maka pastilah dagangan akan laris manis hanya karena orang yang dihadapi merasa comfort walaupun sebenarnya tak butuh dagangannya.


            Dan...Kuret lagi, kuret lagi. Ckckck... aku rasanya hampir terbiasa dengan ini. Namun bukan berarti aku enteng untuk menjalaninya. Berhari-hari aku dilanda kegalauan. Kecemasan yang sama saat pertama kali menjalani operasi; “Bagaimana kalau operasinya tidak berhasil” walaupun menurut informasi, belum ada kasus seperti ini.

“Bagaimana bila ketika aku menutup mata saat di bius di ranjang operasi, aku takkan membuka mataku lagi?”

“Bagaimana dengan kehidupanku di alam kubur sana? Aku masih terlalu banyak dosa”

“Kenapa nasibku terlalu dramatis begini?”

“Kenapa aku..?”

“Apakah benar tak ada yang salah di diriku?”

Hmm...dan banyak lagi yang kupikirkan yang semacam  itu.

            Maka ditemani suami yang memberikan perhatian yang super duper besar dan didukung keluarga, kukumpulkanlah kekuatan dalam diriku. Kubisikkan dan kutuliskan banyak sekali kata-kata penyemangat untukku sendiri sembari menjalani aktivitas sehari-hari di kantor yang mudah-mudahan terlihat biasa-biasa saja. Dan kuakui dengan sebenar-benar pengakuanku kepada penciptaku, bahwa memang benar, aku hanyalah perempuan biasa. Perempuan biasa ini bukan wonder woman, i have no amazing power bila berhadapan dengan ketentuan dari Tuhanku. Ini jelas takdirku. Dan percuma aku mengaku beriman kalau aku tak menerima kenyataan yang digariskan untukku. Tiada satu pun yang terjadi di muka bumi ini, entah itu kepedihan hati, kesakitan fisik atau juga kegembiraan-kegembiraan jiwa, selain karena izinNya. Laa haula walaa kuwatta illah billah ‘aliyil adzim. Aku diizinkan untuk merasai semua ini dan jelas hanya dengan menerimalah aku akan mudah melewatinya.

Bismillahirrahmanirrahim, bersama dengan nama Tuhanku, Allah, yang Maha Pengasih dan maha penyayang, let’s do it! “Mari kita mulai!”

            Dua minggu setelah vonis itu, aku baru datang lagi. Hahay, ga pa pa kan? Namanya juga orang trauma. Harap maklum, dok! Dan sang dokter harus meng-USG ulang perutku untuk memastikan bahwa tindakan kuret memang masih perlu dilakukan. Katanya kalau kantong kehamilanku sudah jatuh semua, mending tak usah kuret. Hmm, tau begitu aku cari cara untuk itu, hehe. Ironis.

            Dokter menyarankan bius lokal saja. Wow! Membayangkan dokter dan perangkat-perangkatnya ‘mengerjaiku’ di saat aku masih sadar saja sudah membuatku senewen. Apalagi pada saatnya tiba. Aku bukannya mengecilkan keberanianku, tapi aku realistis, sadar dirilah. Lihat tanganku diinfus saja aku ‘malas’ (a.k.a takut) apalagi yang lebih dari itu. Aku tanya seperti apa rasanya, kata dokter tetap saja nyeri. Dan walaupun dibujuk dengan perkiraan waktu yang hanya sekitar lima menit, tapi aku tidak bisa membebani diriku dengan kesadaran penuh saat menjalaninya, mentalku tidak sekuat itu. Biarlah aku terbius total dan hanya memikirkan untuk menyembuhkan luka-luka fisik dan batinku setelahnya. Maaf, aku hanya sanggup seperti itu!

            Maka pindahlah kami ke rumah sakit yang lebih representatif untuk peralatan dan dokter bius yang siap sedia. Dimulai dengan tetek bengek pendaftaran khas indonesia. Terbaringlah aku menjalani pemeriksaan awal. Pemeriksaan yang menghasilkan kesimpulan bahwa aku harus dipasangi semacam alat kurang lebih tujuh senti di bawah sana untuk membuka jalan lahir agar aku siap dikuret. Oke, aku tidak kaget dengan hal itu, karena itu sudah kujalani di keguguranku sebelumnya (Hiks!) dikelilingi oleh-oleh dokter muda dan bidan senior maupun yunior, jadilah aku dijadikan semacam tontonan dengan dalih pembelajaran. Apa mereka tidak tahu kalo perempuan ini begitu malu dan risih?! Tapi lagi-lagi itu tidak mengagetkanku. Hal yang baru yang cukup membuatku terkejut adalah saat menjalani pemeriksaan dan prosedur ini, aku hanya sakit untuk beberapa detik saja. Itu pun kurasa karena aku belum siap. Setelah menarik nafas panjang dan teratur, rasanya tidaklah sesakit sebelumnya. Buktinya aku bebas berjalan, tidur dan baring tanpa ada keluhan, padahal di bawah sana alat sepanjang itu telah dipasang kuat. Aku angkat dua jempol untuk dokter dan bidan itu.

            Hal mengejutkan lainnya, dokter yang akan memberi tindakan ternyata seorang laki-laki. Oh MG! Cobaan apa lagi ini?? Ditangani perempuan-perempuan saja aku sudah menebal-nebalkan muka. Kepercayan diri yang kubangun berminggu-minggu hampir terbang meninggalkanku. Rasanya ingin pindah rumah sakit lagi. Tapi melihat suamiku yang sudah begitu kurepotkan, rasanya tak tega juga. Dan bagusnya, suamiku sangat mengerti apa arti tatapanku padanya. Dia membesarkan hatiku dengan lelucon-leluconnya yang khas bila kami ingin menertawai sesuatu berdua saja (jadi leluconnya takkan kubagi di sini, hihi). Baiklah, Ras..dunia belum kiamat. Lagian dokternya ramah pake banget, mengerti kerisihanku dengan mendelegasikan tugasnya pada bidan untuk pemeriksaan awal dan satu lagi, dia mirip artis korea! Hohoho.... maaf suamiku, aku terpaksa mengakui dia bersaing dengan gantengmu! ^_^

            Maka kuret pun dilakukan malam harinya saat sang dokter baru selesai mengoperasi pasien gawat darurat, dokter biusnya juga ramah dan mulai mengajakku untuk zikir dan  ingat Tuhan. Aku lebih tenang. Bismillah..dan clap! Semua menjadi gelap dan hening.

            Dan lalu gelap tak lagi hening. Suara-suara datang silih berganti. Suara-suara orang-orang yang kukenali tapi terlalu lemah untuk kusadari mengapa bisa kudengar suara-suara itu di sana. Suara dokter dan bidan yang lirih. Semua terasa begitu jauh. Hanya suara suamiku yang terasa dekat. Lalu ketukan dan pijatan-pijatan di telapak tanganku. Dan rasa pusing yang mendera dengan hebatnya. Lalu gelap hening lagi.

            Kemudian ada tambahan suara-suara yang berbeda. Suara dokter bidan telah terdengar lagi. Pijatan-pijatan lembut ibuku juga terasa lagi. Rasanya mampu kulawan gelap ini dengan membuka mataku. Dan terdengar suamiku meminta izin untuk membawaku ke kamar, pindah dari ruang tindakan yang dingin menyeramkan itu. Tapi dokter harus memastikan aku telah sadar.

            “Berapa ini, bu?”sang dokter mengacungkan jarinya dua. Aku jelas tau itu berapa tapi hanya bisa tersenyum lemah menemui gelapku kembali.

            Entah untuk berapa lama ketika akhirnya aku kembali lagi menemui dunia.

Aku sudah membuka mata, dan kali ini Cuma ibu dan suamiku yg terlihat. Lagi-lagi dia meminta izin memindahkanku. Prosedurnya tetap sama, dokter harus memastikan aku telah sadar sepenuhnya.

            “ Berapa ini bu?” aku sudah pintar menjawab dua,

            “ Nama ibu siapa?” ah gampang, tidak mungkin aku salah nama

            “ Siapa ini?” dokter menunjuk ke arah kekasih hatiku. Aku tersenyum lemah, “ Yah, suamikulah, dok”

            “oke, dia boleh dipindahkan”

            Pindahlah aku ke kamar yang cukup nyaman karena luas dan tak perlu berbagi kamar dengan yang lain serta air yang cukup.





            Pasca kuret aku dianjurkan oleh dokter untuk istirahat di rumah hingga pekan berikutnya. Dan sesuai aturan kepegawaian, pegawai negeri sipil wanita dibolehkan mengambil cuti sakit hingga satu setengah bulan bagi yang keguguran. Itu artinya selama satu bulan tiga minggu aku akan menerima tantangan menjadi ibu penuh waktu. Apakah ini hal yang menarik? Mungkin tidak bagi sebagian orang, tapi untuk ibu yang juga bekerja selama lima hari dalam sepekan, dimana di setiap harinya waktu-waktu produktif hingga sepuluh jam dihabiskan di tempat kerja, rasanya sehari dua hari kan terasa menyenangkan. Menghabiskan waktu menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga, mengontrol jadwal  bangun pagi, makan, mandi dan sejenisnya dari semua penghuni rumah. Melakukan kegiatan-kegiatan pribadi di sela-sela rutinitas rumah tangga dan yang paling penting menemani tumbuh kembangnya anak-anak yang ‘ajaib’. Ini pastilah salah satu hikmahnya aku mengalami semua ini. Tuhan memang suka ngajak bercanda. 
Hmm...nantilah dilanjut lagi,hehe

TAI AYAM




Putri (3)           :”Tante, di mana Tante tinggal?” (maksudnya kampung halaman di mana)
Raras (25)       : “ di Tampo.”
Putri                : “ Banyakkah di sana tai ayam?”
Raras              : “ Apa??” (memastikan tidak salah dengar)
Putri                : “ TAI AYAM!!” (artikulasi jelas, intonasi ditekan disertai anggukan kepala)
Raras              : “ &@#$%???”  (hahahaha.....)
            Itulah sepenggal perkenalan paling lucu, unik, singkat dan sangat berkesan yang pernah kualami. Gadis cilik itu tidak hanya memberi hiburan untukku saat itu, tapi juga menyisakan pertanyaan yang panjang dalam benak dan hatiku. Apakah yang sebenarnya ada di kepala si Putri saat bertanya seperti itu. Mungkinkah dia berpikir, di semua tempat itu pasti punya “tai ayam”?
Fantasi anak-anak memang benar-benar unik dan kadang mengejutkan. Mereka mengungkapkannya pun dengan cara yang biasa-biasa dan tanpa rasa sungkan. Aku yang biasanya tidak terlalu suka pada anak-anak (ups, sebelum nikah dan itu terkecuali anak-anak tertentu) bisa jadi tertarik dan tertawa terbahak-bahak juga. Seperti  bertahun-tahun kemudian ketika aku sudah menikah, aku langsung tertawa ketika anakku berkata dengan datarnya : “ Lebih sakit kalo jempol kena ujung meja, lebih sakit dari jatuh cinta.” Ckckck...apa coba??
Isi kepala manusia memang susah ditebak, apalagi itu anak-anak. Aku jadi terkagum-kagum pada Dia Yang Menciptakan. Kadang keindahan Dia bungkus dengan misteri.